LIDIK NEWS.COM | LEMBATA — Produksi hortikultura di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menunjukkan perkembangan positif. Komoditas tomat dan semangka hasil produksi petani lokal kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam daerah, tetapi juga mulai menembus pasar luar Kabupaten Lembata.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Ade Hasan Yusuf, mengatakan produksi tomat lokal saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Lembata. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pasokan tomat dari luar daerah semakin berkurang bahkan tidak lagi diperlukan.
“Tomat Lembata sudah menjawab kebutuhan masyarakat dan tidak ada lagi pemasok tomat dari luar Lembata,” ujar Ade Hasan.
Menurutnya, sentra produksi tomat saat ini berada di Kecamatan Ile Ape. Selain itu, Desa Mahal II juga menjadi salah satu wilayah dengan produksi tomat yang cukup tinggi.
Ia menyebut peningkatan produksi tersebut merupakan hasil kerja keras para petani yang didukung melalui berbagai program pendampingan dan pembinaan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata.
“Kebutuhan tomat di tengah masyarakat sangat tinggi. Dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), para petani tomat juga menikmati peningkatan permintaan dan hasil produksi,” katanya.
Tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, rantai pasok tomat Lembata kini mulai berkembang hingga ke luar daerah. Produk tomat petani Lembata bahkan telah dipasarkan ke Kabupaten Alor.
Ade Hasan mengatakan kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk memperkuat tata kelola produksi dan menjaga keberlanjutan rantai pasok, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
“Rantai pasok tomat ini sudah menjalar ke pasar yang ada di Kabupaten Alor. Karena itu, para petani perlu mengatur produksi dan menjaga keberlanjutannya dari hulu sampai hilir,” jelasnya.
Semangka Lembata Tembus Pasar Kota Kupang
Selain tomat, komoditas semangka juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata memastikan produksi semangka lokal saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan dapur MBG.
Bahkan, semangka hasil produksi petani Lembata telah menembus pasar Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Untuk buah semangka, kami sudah memastikan bahwa produksinya telah memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga dapur MBG. Semangka Lembata juga telah menembus pasar Kota Kupang,” ungkap Ade Hasan.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata berencana membentuk kelompok atau wadah khusus bagi petani semangka.
Pembentukan kelompok tersebut diharapkan dapat membantu petani menjaga kualitas produksi, meningkatkan standar hasil panen, serta mendorong semangka Lembata menjadi produk dengan kualitas primer yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pendampingan Petani Terus Diperkuat
Ade Hasan menegaskan bahwa peningkatan produksi pertanian di Lembata tidak terlepas dari peran para penyuluh dan pendamping yang secara langsung memberikan pembinaan kepada kelompok-kelompok tani.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan selama ini memberikan dampak positif terhadap kemampuan petani dalam mengelola usaha pertanian dan meningkatkan hasil produksi.
“Pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan kepada kelompok tani sangat baik sehingga memperoleh hasil yang baik,” ujarnya.
Selain kelompok tani, pemerintah daerah juga memberikan perhatian kepada berbagai komunitas yang saat ini aktif bergerak di bidang pertanian di Kabupaten Lembata.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, kata Ade Hasan, terus berupaya meningkatkan produksi pertanian karena capaian yang ada saat ini masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Kami berupaya melakukan peningkatan produksi karena belum terlalu maksimal, sehingga ke depan dapat semakin membantu memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Dorong Petani Sejahtera dan Rantai Pasok Berkelanjutan
Lebih lanjut, Ade Hasan berharap peningkatan produksi pertanian dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Ia juga menekankan pentingnya membangun rantai pasok yang kuat agar manfaat ekonomi dapat dirasakan mulai dari petani hingga konsumen.
“Harapan kami petani bisa semakin sejahtera dan rantai pasok dari hulu sampai hilir bisa dinikmati dengan baik,” tuturnya.
Ia mengakui dalam proses peningkatan produksi pertanian masih terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, baik oleh petani maupun tenaga penyuluh dan pendamping di lapangan.
Namun, tantangan tersebut menjadi bagian dari proses untuk terus menghadirkan inovasi dan metode baru yang dapat membantu petani meningkatkan produktivitas.
Para penyuluh dan pendamping, lanjutnya, terus didorong untuk memberikan inovasi kepada petani agar hasil produksi pertanian di Kabupaten Lembata dapat meningkat pada tahun 2026.
“Kami terus berproses. Tentunya ada tantangan bagi para penyuluh dan pendamping, tetapi kami terus memberikan inovasi kepada para petani agar hasil produksi meningkat di tahun 2026,” jelas Ade Hasan.
Ia menambahkan, peningkatan produksi tomat dan semangka serta perluasan pasar hasil pertanian lokal merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Lembata.
Dengan semakin kuatnya produksi lokal, pemerintah berharap Lembata tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sendiri, tetapi juga berkembang sebagai salah satu daerah pemasok komoditas hortikultura bagi wilayah lain di NTT.***(roy)




















