LIDIK NEWS. COM | LEMBATA – SEJUMLAH desa di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali mengeluhkan krisis air dan pakan ternak yang terus menghantui aktivitas peternakan warga, khususnya saat musim kemarau.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bersama para kepala desa, warga dan aktivis lingkungan yang digelar LSM Barakat di kantornya pada Jumat (13/2/2026) petang.
Layla, warga Desa Kolipadan, Kecamatan Nubatukan, menyampaikan, kebutuhan air untuk ternak menjadi tantangan terbesar. Kondisi air di wilayah itu payau, memaksa warga membeli air dari luar pulau, bahkan dari Adonara.
“Air minum kami sampai hari ini bermasalah. Satu drum 200 liter harganya Rp20 ribu. Dalam sebulan bisa Rp600 ribu, itu pun kurang untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus,” ujar Layla.
Sejak 1968, Warga Kolipadan Pasok Air dari Adonara
Kepala Desa Kolipadan menuturkan, persoalan air bukan hal baru. Sejak tahun 1968, warga menggunakan kole-kole dan sampan untuk mengangkut air dari Adonara.
Ia juga menekankan bahwa peternakan kambing di Kolipadan sangat berkaitan dengan urusan adat. Namun persoalan air dan pakan membuat pengelolaannya sulit berjalan optimal.
“Kendala pakan sangat terasa. Musim hujan melimpah, tapi kemarau ternak dilepas cari makan sendiri sampai masuk rumah-rumah warga. Sampai sekarang kami belum dapat pola yang baik untuk musim kemarau,” jelasnya.
Kades Kolipadan mengaku telah berupaya menjalin kerja sama dengan PLAN untuk pembangunan bak air sebagai salah satu solusi jangka panjang.
Beutaran & Todanara: Pakan Minim, Konflik Ternak Meningkat
Hal serupa dialami Desa Beutaran. Meski kini sudah memiliki dua titik sumur bor, pakan tetap menjadi tantangan utama. Peternak bahkan harus berjalan kaki pulang–pergi total 12 kilometer setiap hari di musim kemarau hanya untuk mencari pakan kambing dan babi.
Di beberapa lokasi, kekurangan pakan bahkan memicu konflik antarwarga. “Ada kambing yang ditombak, 20 ekor. Ada juga yang menanam pakan tapi ternaknya masuk di kebun orang lain. Waktu banyak habis mencari dan mengolah pakan. Beternak belum jadi sumber pendapatan, masih sebatas untuk urusan adat,” cerita seorang peternak.
Kepala Desa Todanara menambahkan bahwa pola peternakan di wilayahnya juga belum stabil karena pakan terbatas, terutama di musim kering.
Todara Paling Beruntung: Padang Penggembalaan 20 Hektare
Berbeda dengan desa lain, Todanara dan Watodiri tetap stabil dalam penyediaan pakan dan air. Warga memanfaatkan sumber air dari Kalikasa, sementara padang penggembalaan seluas 20 hektare membantu menjaga ketersediaan hijauan.
Namun muncul catatan baru: titik sumur bor yang dibangun proyek pemerintah seringkali tidak dikoordinasikan dengan pemerintah desa.
“Kalau titik tidak tepat, dampaknya kecil,” ujar seorang perangkat desa.
Barakat Hadirkan Akademisi untuk Bedah Masalah Peternakan
Melihat besarnya persoalan, LSM Barakat menghadirkan Prof. Dr. Bernadete Barek Koten, S.Pt., MP, akademisi yang lama meneliti peternakan di Nusa Tenggara Timur.
Ia menyebut persoalan peternakan di Lembata hanyalah potret kecil masalah umum di NTT.
“Saya menyimak dengan baik. Masalah ini umum: ada ternak dulu, pakan kemudian. Padahal pakan harus lebih dulu direncanakan,” ujarnya.
Prof. Bernadete menegaskan bahwa kendala dasar peternakan—air dan pakan—harus ditangani dengan pendekatan manajemen berkelanjutan. Ia menawarkan beberapa langkah teknis: Membuat Lumbung Pakan
Lumbung pakan bisa berupa pakan segar maupun olahan.
Pakan segar: harus ditanam, tidak hanya mengandalkan alam.
Pakan olahan: seluruh bagian tanaman bisa dimanfaatkan, termasuk jagung (akar hingga pucuk), padi, pisang, ubi keladi, dan ubi kayu.
Olahan harus disimpan kedap udara, menggunakan gentong atau plastik besar, dan bisa bertahan hingga lima tahun.
Profesor dari Politeknik Pertanian Kupang itu menyarankan pembuatan Pola Kebun Tiga Strata.
Pola ini membantu ketersediaan hijauan sepanjang tahun:
Lapisan luar ditanam gamal,
Lingkaran tengah ditanam pisang,
Lingkaran dalam dengan tanaman lamtoro,Petakan pusat berisi tanaman pangan untuk manusia.
Profeaor Berbadete menyarankan pula, warga mengoptimalkan Puskeswan guna meminimalisir penyakit pada tenak, terutama pada peralihan musim.
Ia meminta warga tidak ragu memanfaatkan layanan Puskeswan untuk perawatan ternak sakit.
Barakat Mulai Pilot Project di Todanara,
LSM Barakat menegaskan komitmennya untuk memulai proses pendampingan peternak secara bertahap, dimulai dari Desa Todanara sebagai lokasi uji coba.
Direktur Barakat, Benediktus Bedil mengatakan, pola pakan terencana, akses air yang lebih baik, dan manajemen peternakan bisa ditularkan ke desa-desa lain di Lembata.
Dengan diskusi yang melibatkan akademisi, pemerintah desa, dan warga, para peternak berharap krisis air dan pakan yang selama puluhan tahun membatasi perkembangan peternakan di wilayah itu dapat segera teratasi. ***(AN-LN)



















