LIDIK NEWS. COM | KOLIPADAN — Menjelang dan selama bergulirnya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 Persebata, Pemerintah Desa Kolipadan bersama panitia lokal, Lembaga Adat, serta Orang Tua Suku Kelee menggelar ritual adat “Geletengen Pelumuten” di area Stadion Dadu Bliung, Desa Kolipadan.
Ritual tersebut digelar sebagai bentuk permohonan doa dan perlindungan kepada leluhur serta Sang Pencipta agar seluruh rangkaian kompetisi berlangsung aman, tertib, lancar, dan kondusif.
Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat, Geletengen Pelumuten juga dimaknai sebagai simbol penyucian arena pertandingan serta ikhtiar adat untuk menjauhkan berbagai hal yang tidak diinginkan selama kompetisi berlangsung.
Kepala Desa Kolipadan, Rumlan Dadu, mengatakan bahwa pelaksanaan ritual adat tersebut tidak hanya berkaitan dengan kelancaran pertandingan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, sportivitas, dan rasa kekeluargaan di tengah masyarakat.
«“Kami ingin memastikan atmosfer kompetisi berjalan damai. Ritual Geletengen Pelumuten ini merupakan warisan leluhur yang kami jalankan agar seluruh pemain, official, panitia, hingga para penonton senantiasa dinaungi rasa aman dan persaudaraan,” ujar Rumlan.»
Menurutnya, kompetisi sepak bola harus menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, bukan sekadar persaingan di lapangan. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat diharapkan mampu menjaga suasana pertandingan tetap sportif dan mengedepankan semangat kebersamaan.
Panitia lokal, lembaga adat, dan tokoh masyarakat juga berharap pelaksanaan Liga 1 dan Liga 2 Persebata di Stadion Dadu Bliung dapat berjalan sukses hingga seluruh pertandingan berakhir.
Ritual Geletengen Pelumuten menjadi penanda bahwa penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Kolipadan tidak hanya menghadirkan semangat olahraga, tetapi juga tetap berjalan berdampingan dengan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat setempat.
Sumber : (KP/SLP)
Editor : Roy Wahar



















