LIDIK NEWS. COM | LEMBATA – Kembali terjadi keluhan dari para pemilik barang serta nahkoda kapal penyeberangan dari dan menuju Lembata – Larantuka terhadap sikap parah buruh lokal darat yang ada di Pelabuhan Rakyat (Pelra) sekian hari meresahkan pengguna jasa yang membawa barang bawaan.
Hal tersebut cukup menjadi sorotan berbagai pihak diantaranya adalah pemilik barang, nahkoda kapal, para sopir serta para penumpang kapal.
Salah seorang pemilik barang yang enggan disebutkan identitasnya kepada media ini mengatakan bahwa harga yang di patokan itu terlalu tinggi.
“Miris sekali pak, karena barang yang biasa di bawa contoh seperti telur ataupun springbed kalau di Larantuka harga buruhnya untuk 1 ikat telur itu seribu rupiah dan springbed 5 ribu rupiah, sedangkan di buruh darat pelabuhan rakyat Lewoloba harga satu ikat telur dua ribu rupiah dan springbed bisa sampai 30 ribu rupiah, ini gila dan terlalu mahal, jo kami jual kami dapat untung berapa?. Situasi ini sangat mencengangkan dan jelas saja harga barang bisa naik karena ulah dari para buruh darat Pelra tersebut, ” ungkapnya dengan nada kesal.
Kami minta Pemerintah Daerah Kabupaten turut mengambil bagian dalam penetapan satuan harga soal bongkar muat bagi buruh darat pelabuhan rakyat yang ada di pelabuhan laut Lewoleba, karena sangat meresahkan.
“Mereka ini kan pekerja jasa pak, lalu mereka sendiri yang menentukan harga barangnya, jika pemilik barang tidak punya uang yang cukup apakah mereka tetap memaksa, tentunya kondisi ini sangat memprihatinkan, olehnya itu kami minta penegasan soal harga barang buruh darat Pelra yang di Lewoleba, ” ujarnya.
Berdasarkan hasil investigasi oleh media ini, perhimpunan buruh tersebut bertengger dibawah himpunan organisasi TKBM Lewoleba yang berkantor di dalam lokasi pelabuhan Lewoleba. Organisasi buruh darat Pelra baru terbentuk sekitar satu tahun berjalan.
Kata para pemilik barang yang enggan di sebutkan namanya, meminta kepada organisasi induk TKBM agar kalau bisa boleh ditertibkan soal harga angkat barang dari kapal ke darat pelabuhan, karena terlampau tinggi.
“Semoga keluh kesah kami ini dapat di terima dan bisa mendapatkan kompensasi terhadap situasi tersebut, ” tutupnya.




















