LIDIK NEWS. COM | LEMBATA – Anggota DPR RI H Sulaeman L Hamzah selalu pejuang terbentuknya Kabupaten Lembata yang menginisiasi penerbitan buku sejarah tersebut yang ditulis Thomas B. Ataladjar seorang jurnalis dan penulis buku.

Buku ini berjudul ”Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya” dalam waktu dekat ini akan diluncurkan sebagai kado pada HUT ke-23 Kabupaten Lembata.
Dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Palm Indah, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata pada Senin 10 Oktober 2022.

Sebagai narasumber adalah H. Sulaeman L. Hamzah, Anggota DPR RI Fraksi Partai Nasdem sekaligus pejuang otonomi Lembata, Thomas Ataladjar selaku penulis buku, Dr Yapi Taum, Dosen Bahasa dan Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta, dan Dr Goris Lewoleba, seorang dosen di Jakarta sekaligus sebagai moderator.
“Kami datang ke Lembata membawa sejumlah agenda acara yang diawali dengan peluncuran buku pertama secara adat dan budaya di Hadakewa, Ibukota Kecamatan Lebatukan yang merupakan tonggak sejarah Statemen 7 Maret 1954,” ujar Goris Lewoleba.
Kemudian, seminar di tempat yang sama pada HUT ke-23 Kabupaten Lembata pada 12 Oktober 2022.
“Seminar ini sangat amat penting agar buku sejarah ini dapat diketahui oleh masyarakat khususnya generasi muda kita, anak-anak Lewotana Lembata,” tambah dia.
Buku sejarah pembentukan otonomi Kabupaten Lembata ini dapat dijadikan mata pelajaran muatan lokal (mulok) pada semua jenjang pendidikan di daerah itu.
Sedangkan anggota DPR RI H Sulaeman L. Hamzah asal daerah pemilihan Provinsi Papua ini mengatakan kedatangannya di Kabupaten Lembata sebagai bukti kecintaannya terhadap Lewotana.
“Kami tim lengkap dari Jakarta sebagai keluarga besar Diaspora datang karena kecintaan kami kepada Lewotana Lembata. Kami membawa sebuah kado indah berupa buku sejarah bernilai dokumenter dan monumental sangat tepat dijadikan mulok bagi generasi muda dan pelajar,” ucap H Sulaeman.
Menurut H Sulaeman, membuka ruang komunikasi antara Pemkab Lembata dan Diaspora untuk menjalin kerja sama membangun Lembata merupakan sebuah tradisi yang baik patut dipertahankan, dijaga dan dirawat secara bersama-sama.
H Sulaeman pun mengajak awak media yang hadir agar menulis apa adanya, sesuai fakta dan data yang ada. Tidak hanya mewartakan yang baik-baik saja tetapi juga mengemban tugas kontrol sosial atau kritikan kepada masyarakat dan pemerintah demi perubahan Lembata yang lebih baik, maju dan sejahtera.
Kabupaten Lembata yang memiliki potensi pada sektor kelautan, perikanan dan pertanian. Pemkab Lembata mesti terus bergerak mengembangkan semua potensi unggulan tersebut agar meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Buku yang akan diluncurkan itu berisi sejarah peradaban masyarakat Kabupaten Lembata sejak jaman purbakala.
Dalam buku ini juga melukiskan 10 tonggak sejarah Kabupaten Lembata yaitu:
1. Sejarah purbakala sejak zaman nirleka (pra-aksara) atau masa prasejarah
2. Sejarah asal usul dan migras
suku-suku
3. Sejarah kebencanaan
4. Sejarah masuknya dua agama wahyu ke Lembata Islam dan Katolik
5. Sejarah pendidikan dan masuknya peradaban baru di Lembata,
6. Sejarah kolonial dan swapraja dengan sistem Paji Demong
7. Sejarah pemerintahan zaman kolonial dan swapraja
8. Sejarah kebudayaan Lembata,
9. Sejarah Perjuangan Rakyat Lembata sampai mencapai otonominya 1999, dan
10. Sejarah Lembata dalam namanya.
Buku ini dipartisi dalam dua bagian, masing-masing disusun berdasarkan bab-bab yang berbeda, yakni pra sejarah dan sejarah.
Bagian pertama menyajikan tentang Lomblen era prasejarah termasuk fase migrasi serta asal usul suku-suku masuk ke Lomblen.
Kemudian membahas pula, tentang Sina Jawa-Malaka, Seran Goran Abo Muar, Lepan Batan-Kroko Puken serta bencana Kroko Puken dan Awololo, dan juga tentang agama asli leluhur Lera Wulan Tana Ekan (Tuhan Penguasa Langit dan Bumi) serta aneka ritus budaya lainnya.
Bagian kedua, menyajikan Lomblen memasuki era sejarah ditandai dengan masuknya dua agama wahyu Islam dan Katolik.
Sejarah pemerintahan Lomblen era kolonial dan swapraja (Kakang dan Kapitan). Sistem Paji Demong yang merupakan momok bagi rakyat Lomblen.
Lalu, sejarah berprosesnya pendidikan dan peradaban baru di Lembata.
Sejarah Perjuangan Otonomi Rakyat Lembata sejak sebelum, menjelang dan seputar 7 Maret 1954 serta seluruh proses perjuangannya sejak 1954 hingga Lembata menjadi kabupaten pada 1999.****



















