LEWOLEBA, LIDIK NEWS – Keindahan warisan budaya Lamaholot kembali memikat perhatian publik. Salah satu yang paling mencuri perhatian dalam pembukaan Festival Lamaholot 2026 di Pantai Wisata Wulen Luo, Lewoleba, Rabu (1/7/2026), adalah sarung adat khas Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, yang dibanderol hingga Rp25 juta per helai.
Harga fantastis tersebut bukan sekadar mencerminkan nilai ekonomi sebuah kain tenun, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan waktu hingga tiga tahun, dikerjakan secara tradisional dengan ketelitian tinggi dan diwariskan secara turun-temurun.
Sarung adat itu merupakan hasil karya Kelompok Penenun Peten Ina Desa Lamagute. Ketua kelompok, Agnes K. Witak, menjelaskan bahwa seluruh tahapan pembuatan dilakukan secara manual, dimulai dari menanam kapas sebagai bahan baku utama.
“Prosesnya sangat panjang. Kami mulai dari menanam kapas, memanen, kemudian melakukan Balo Kape untuk memisahkan kapas dari bijinya secara manual. Setelah itu kapas dihaluskan melalui proses Buhu sebelum dipintal menjadi benang menggunakan teknik Tue Lelu,” ujar AgnesAg
Keistimewaan kain tenun ini juga terletak pada penggunaan pewarna alami yang membutuhkan proses sangat lama. Untuk menghasilkan warna hitam pekat, benang direndam dalam ekstrak tanaman Taum yang dicampur kapur sirih selama kurang lebih tiga tahun.
Sementara itu, warna coklat khas diperoleh melalui perendaman benang menggunakan akar pohon mengkudu yang dicampur tanaman Kokal dari Kabupaten Alor. Proses tersebut juga memakan waktu sekitar tiga tahun agar menghasilkan warna yang kuat, stabil, dan tidak mudah pudar.
“Dulu tanaman Kokal dari Alor ditukar dengan jagung. Sekarang satu ikat kecil sudah mencapai Rp50 ribu. Karena prosesnya lama, kualitas warna menjadi sangat baik dan memiliki nilai jual tinggi,” jelasnya.
Lamanya proses produksi membuat kelompok penenun tersebut hanya mampu menghasilkan satu hingga dua helai kain tenun asli setiap tahun. Harga jualnya pun berbeda sesuai jenis motif, yakni sekitar Rp8 juta untuk sarung bermotif hitam dan mencapai Rp25 juta untuk motif coklat.
Lebih dari sekadar karya seni, sarung adat Ile Ape memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Dalam tradisi masyarakat setempat, kain tersebut menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat, terutama prosesi perkawinan.
Menurut Agnes, dalam adat Ile Ape, ketika pihak laki-laki menyerahkan gading sebagai simbol belis, pihak perempuan wajib memberikan sarung adat sebagai balasan. Sarung untuk laki-laki dikenal dengan sebutan Snawel yang bermotif polos, sedangkan sarung perempuan disebut Wate dengan motif khas.
Meski memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi, keberadaan penenun asli kini semakin terbatas. Di Desa Lamagute hanya tersisa lima kelompok yang masih konsisten mempertahankan tradisi menenun secara autentik.
Mereka telah memperoleh dukungan stimulan dari Dana Desa, namun berharap pemerintah dapat memperluas akses pemasaran agar kain tenun khas Ile Ape semakin dikenal di tingkat nasional bahkan mampu menembus pasar internasional.
Selama Festival Lamaholot 2026 yang berlangsung selama empat hari, pengunjung tidak hanya disuguhkan keindahan kain tenun adat, tetapi juga berbagai atraksi budaya seperti Pano Mowak, Titi Jagung, serta aneka kerajinan berbahan tulang ikan paus dan kerang mutiara yang semakin memperkaya pesona budaya Lamaholot.*
(Prokopim Kabupaten Lembata)


















