LIDIK NEWS. COM | LEMBATA — Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunjukkan intensitas tinggi. Berdasarkan laporan pengamatan periode 17 September 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WITA, tercatat sebanyak 278 kali letusan.
Gunung Ile Lewotolok yang berada di wilayah Ile Ape, Kabupaten Lembata, saat ini masih berstatus Level II (Waspada).
Data tersebut berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunungapi Ile Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape.
Dalam pengamatan visual, gunung terpantau jelas hingga tertutup kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tinggi teramati mencapai sekitar 20–100 meter di atas puncak kawah.
Selain itu, selama periode pengamatan tercatat 278 kali letusan dengan tinggi kolom letusan sekitar 100–300 meter. Letusan membawa material berwarna putih dan kelabu.
Aktivitas erupsi juga disertai lontaran material pijar serta suara dentuman dan gemuruh dengan intensitas mulai lemah hingga kuat. Lontaran material pijar teramati masih berada di sekitar radius puncak.
Ratusan Aktivitas Kegempaan Terekam
Selain letusan, Pos Pengamatan Gunungapi Ile Lewotolok juga mencatat sejumlah aktivitas kegempaan.
Terdapat 125 kali gempa hembusan, tujuh kali tremor non-harmonik, enam kali tremor harmonik, dua kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, delapan kali gempa vulkanik dalam, serta tiga kali gempa tektonik jauh.
Untuk gempa letusan, amplitudo tercatat berkisar 16,6–40 mm dengan durasi 34–90 detik.
Sementara gempa hembusan tercatat dengan amplitudo 4,4–33,2 mm dan durasi 20–61 detik.
Kondisi meteorologi selama pengamatan dilaporkan cerah dengan angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah barat dan barat laut. Suhu udara berada pada kisaran 24–32 derajat Celsius.
Warga Diminta Waspada
PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok, termasuk pengunjung, pendaki dan wisatawan, untuk tidak memasuki maupun melakukan aktivitas di dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Larangan juga berlaku pada sektor selatan dan tenggara dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran lava serta awan panas, khususnya pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut.
PVMBG juga mengimbau masyarakat yang berada di sekitar gunung menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan pelindung mata dan kulit untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik dan gangguan pernapasan.
Tempat penampungan air bersih juga dianjurkan untuk ditutup guna mencegah abu vulkanik masuk dan mencemari air.
Pemerintah daerah dan masyarakat diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Ile Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun dengan PVMBG dan Badan Geologi untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Perkembangan aktivitas Gunung Ile Lewotolok dan rekomendasi teknis dapat dipantau melalui Magma Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi/PVMBG.
Laporan aktivitas periode 17 September 2026 tersebut disusun oleh Khairul Imam Tarmizi dan Yeremias Kristianto Pugel, A.Md., berdasarkan data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunungapi Ile Lewotolok.


















