LIDIK NEWS. COM | LEMBATA – Film dokumenter garapan putra asal Kabupaten Lembata Yoris Wutun berjudul HOPE: Strive From Climate Strike meraih juara pertama dalam Festival Film yang diselenggarakan oleh Universitas Toronto, Kanada.

Film HOPE: Strive From Climate Strike garapan Yoris Wutun berhasil menempati urutan pertama menyisihkan film-film dari negara lain seperti Kanada, Pakistan, Nigeria dan Brazil. Panitia telah merilis film-film yang masuk nominasi melalui halaman resminya, theworldwithmnr.com.

University of Toronto Sustainability Film Festival (UTSFF 2023) adalah festival film internasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik atas Pembangunan Berkelanjutan PBB (UN Sustainable Development Goals) di Kampus melalui film. Festival Film ini diselenggarakan oleh MNR Foundation bekerja sama dengan Universitas Toronto.

Penyelenggara berhasil menghimpun puluhan film dari berbagai negara, sementara 10 film terbaik telah ditayangkan pada malam penghargaan (Awarding Night) yang dilaksanakan pada Jumat, 31 Maret 2023 pukul 16:00-19:00 waktu Toronto.

Para filmmakers yang filmnya masuk nominasi resmi (official nomination) juga disertakan untuk berbagi tentang film yang dibuat bersama mahasiswa Universitas Toronto dan partner.

Pada akhir acara, panitia mengumumkan kejuaraan berdasarkan voting. Selanjutnya, film-film yang masuk nominasi resmi akan ditayangkan dan didiskusikan dalam festival film selama 1 minggu di Toronto.

film Dokumenter HOPE: Strive From Climate Strike adalah film yang disutradarai oleh Yoris Wutun dan diproduseri oleh konten kreator asal Adonara, Alfred Ike Wurin (Lingkar Timur Documentary).
HOPE: Strive From Climate Strike kemudian disertakan dalam kompetisi tersebut dan berhasil meraih juara 1 dalam UTSFF 2023.

Film ini bercerita tentang dampak bencana iklim siklon tropis seroja di Lembata dan Adonara pada penduduk lokal dan dunia pendidikan.
“Awalnya, kami tidak membuat film ini untuk tujuan festival. Kami memiliki dokumentasi terkait badai siklon seroja dan beberapa kegiatan komunitas pendidikan di Lembata dan Adonara. Dalam perjalanan, saya menemukan informasi terkait festival film ini yang mensyaratkan adanya 3 isu SDGs dalam film. Kami kemudian menghadirkan ketiga isu itu dalam sebuah film untuk diikutsertakan dalam kompetisi,” kata Yoris Wutun, kepada Tribun Flores, Selasa, 4 April 2023.

Ketiga isu yang dia maksud itu adalah Quality Education/SDG’S No. 4); Climate Action/SDG’s No. 13; dan Partenrship for the Goals/SDG’s No. 17).
“Terkait Climate Action kami menyoroti dampak perubahan iklim yang menjadi penyebab bencana siklon tropis seroja di NTT pada April 2021 serta bencana lainnya sebagai akibat dari perubahan iklim dan dampak turunannya seperti bencana kekeringan, gagal panen, perpindahan paksa penduduk, dan perubahan mata pencaharian,” paparnya.
Terkait pendidikan, film HOPE menyoroti situasi pendidikan darurat serta kondisi belajar yang dialami SDK 1 Lewotolok akibat bencana siklon seroja.
Terkait Partnership for the Goals, HOPE menampilkan gerakan komunitas yang diprakarsai generasi muda melalui Pustaka Bambu, sebuah komunitas pendidikan alternatif, literasi, dan lingkungan yang berbasis di Horowura, Adonara Tengah.*(red)



















