LEWOLEBA, LIDIK NEWS.COM — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terus mendorong proses pembinaan warga binaan melalui berbagai program yang bertujuan membentuk keterampilan dan kemandirian sebagai bekal setelah menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas III Lembata, Antonius Semuki, mengatakan bahwa warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan pembinaan melalui berbagai program, khususnya pembinaan kemandirian.
Menurut Antonius, salah satu program yang dijalankan adalah Program Pembinaan Kemandirian yang memungkinkan warga binaan mengikuti kegiatan produktif, termasuk bekerja di luar lingkungan Lapas melalui program asimilasi luar Lapas.
“Warga binaan selain menjalani masa pidana, mereka juga dibina melalui berbagai program pembinaan. Salah satunya adalah program pembinaan kemandirian yang dapat dilihat melalui kegiatan di luar Lapas atau yang biasa disebut asimilasi luar Lapas,” ujar Antonius.
Ia menjelaskan, pembinaan kemandirian tersebut mencakup sejumlah sektor, mulai dari pertanian, peternakan hingga kegiatan di bengkel kerja.
Dikembangkan di Sektor Pertanian
Di sektor pertanian, warga binaan dilibatkan dalam kegiatan bercocok tanam berbagai jenis sayuran. Sejumlah tanaman yang dikembangkan antara lain kangkung, sawi, terong, pakcoy, patola dan sayur putih.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari program pembinaan, tetapi juga memberikan pengalaman praktis kepada warga binaan dalam mengelola kegiatan pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diharapkan memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Peternakan Ayam dan Kambing
Selain pertanian, program pembinaan kemandirian juga dikembangkan melalui sektor peternakan.
Warga binaan mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan peternakan ayam pedaging dan kambing.
Menurut Antonius, kegiatan peternakan menjadi salah satu bentuk pembinaan keterampilan yang diarahkan agar warga binaan memiliki pengalaman dalam mengelola usaha produktif.
Bengkel Kerja Hasilkan Berbagai Produk
Sementara itu, pada sektor bengkel kerja, warga binaan dilibatkan dalam pembuatan berbagai produk mebel dan perlengkapan lainnya.
Produk yang dikerjakan antara lain meja, kursi, lemari, pintu, jendela dan berbagai produk mebel lainnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas III Lembata memberikan keterampilan kerja kepada warga binaan agar mereka memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui Proses dan Persyaratan Ketat
Antonius menegaskan bahwa warga binaan yang diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan kerja di luar Lapas tidak serta-merta dapat mengikuti program tersebut.
Sebelumnya, warga binaan harus melalui proses Sidang Tim Pertimbangan Pemasyarakatan (TPP). Dalam proses tersebut dilakukan penilaian terhadap persyaratan administratif maupun substantif.
“Warga binaan yang bekerja di luar telah mengikuti sidang Tim Pertimbangan Pemasyarakatan atau TPP dan dinyatakan memenuhi syarat administratif dan substantif,” jelasnya.
Dengan demikian, program asimilasi luar Lapas dilaksanakan melalui mekanisme pembinaan dan pertimbangan sesuai ketentuan yang berlaku.
Antonius berharap berbagai program pembinaan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi warga binaan, terutama dalam membangun keterampilan, tanggung jawab dan kemandirian.
Pembinaan tersebut diharapkan menjadi bagian penting dari proses reintegrasi sosial, sehingga warga binaan memiliki bekal keterampilan ketika nantinya kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat.***(roy)


















