LIDIK NEWS. COM | TAPOBALI, LEMBATA — Pemerintah Desa Tapobali, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), bersama UPTD Puskesmas Wulandoni memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 7 September 2026, mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai tersebut dipusatkan di Balai Posyandu Tanjung Sarang, Desa Tapobali. Pelayanan menyasar berbagai kelompok usia dengan mengintegrasikan pemeriksaan penyakit menular dan tidak menular.
Sejumlah layanan yang diberikan meliputi skrining dan deteksi dini Kusta serta Tuberculosis (TBC), pemeriksaan golongan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol.
Program tersebut merupakan bagian dari realisasi Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) dan didukung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) Tapobali Tahun Anggaran 2026.
Tim medis UPTD Puskesmas Wulandoni menjadi tenaga pemeriksa utama dalam kegiatan tersebut, didampingi kader kesehatan desa, perangkat Desa Tapobali, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Kepala Desa Tapobali, Agustinus Bala Ledun, S.Fil, mengatakan pemerintah desa berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan langsung di tengah masyarakat.
“Pelayanan ini hadir langsung di desa sehingga warga tidak perlu menunda pemeriksaan kesehatan. Kesehatan warga adalah fondasi utama pembangunan Desa Tapobali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan Posyandu ILP diarahkan untuk memperluas akses pelayanan kesehatan berdasarkan siklus hidup, mulai dari ibu hamil, ibu nifas dan menyusui, bayi dan balita, anak sekolah dan remaja, usia produktif hingga lanjut usia.
Menurutnya, dukungan APBDesa Tahun Anggaran 2026 menjadi bagian penting dalam memastikan program kesehatan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Plt. Camat Wulandoni, Petrus L.H.M. Gowing, SE, mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah desa dan UPTD Puskesmas Wulandoni.
“Integrasi layanan kesehatan di tingkat desa seperti Tapobali merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak dasar masyarakat,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat agar memanfaatkan pelayanan kesehatan terpadu tersebut secara optimal guna mendorong terciptanya masyarakat desa yang sehat dan produktif.
Kepala UPTD Puskesmas Wulandoni, Dominikus P. Kepuka, SKM, menegaskan bahwa transformasi layanan melalui ILP diarahkan untuk mendekatkan akses deteksi dini dan pencegahan penyakit kepada masyarakat.
“Tenaga medis kami diturunkan langsung ke lapangan guna memastikan pelayanan berjalan komprehensif, terstruktur, dan berkesinambungan,” ujarnya.
65 Warga Jalani Deteksi Dini Kusta
Dalam kegiatan tersebut, pemeriksaan penyakit menular menjadi salah satu fokus utama. Sebanyak 65 warga Dusun Walet mengikuti deteksi dini Kusta, terdiri atas 25 laki-laki dan 40 perempuan.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tujuh orang dengan bercak putih tanpa mati rasa, sementara dua orang ditemukan memiliki bercak putih disertai mati rasa.
Dua orang yang menunjukkan hasil pemeriksaan tersebut merupakan pasien Kusta tipe PB (Paucibacillary) yang sebelumnya telah dipantau sejak Juni 2026. Berdasarkan keterangan pengelola program, pengobatan bagi kedua pasien tersebut akan segera dimulai dalam minggu berjalan.
Skrining Kusta dan TBC dilakukan sebagai langkah deteksi dini untuk menemukan kasus secara lebih cepat, sehingga penanganan dapat segera diberikan sesuai standar sekaligus mendukung upaya pemutusan rantai penularan di masyarakat.
Skrining PTM Menjangkau 129 Warga
Selain penyakit menular, Posyandu ILP juga memberikan pelayanan skrining Penyakit Tidak Menular (PTM).
Sebanyak 129 sasaran dewasa dan lansia mengikuti skrining PTM. Dari pemeriksaan tersebut, terdapat 6 orang yang menjalani pemeriksaan kolesterol, 14 orang pemeriksaan gula darah, dan 12 orang pemeriksaan asam urat.
Skrining tersebut ditujukan untuk mendeteksi lebih awal faktor risiko penyakit seperti diabetes, gangguan asam urat, serta gangguan metabolik dan kardiovaskular.
Pengelola program ILP, Kusta, TBC, dan Laboratorium UPTD Puskesmas Wulandoni menjelaskan bahwa integrasi pelayanan memungkinkan berbagai pemeriksaan dilakukan secara lebih dekat dengan masyarakat.
“Selain pemeriksaan golongan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol sebagai langkah awal penanganan penyakit tidak menular, kami juga memperkuat deteksi dini serta penemuan kasus aktif Kusta dan TBC di tingkat desa agar dapat ditangani secara cepat dan tepat hingga tuntas,” jelasnya.
Pemeriksaan Golongan Darah Dijadwalkan Oktober
Untuk pemeriksaan golongan darah, kegiatan tersebut akan dilanjutkan pada Posyandu ILP bulan Oktober 2026.
Pemeriksaan golongan darah diarahkan untuk membangun basis data kesehatan dan calon donor darah di tingkat desa. Basis data tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menghadapi kebutuhan darah pada kondisi darurat medis di kemudian hari.
Pemerintah Desa Tapobali bersama UPTD Puskesmas Wulandoni menilai integrasi pelayanan kesehatan di tingkat desa menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya promotif dan preventif.
Melalui Posyandu ILP, pelayanan kesehatan tidak hanya diarahkan pada pengobatan ketika warga sakit, tetapi juga pada pemeriksaan berkala, deteksi dini, pencegahan penyakit, serta pemantauan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Langkah kolaboratif tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia melalui masyarakat yang sehat.
Editor : Roy Wahar


















