LIDIK NEWS. COM | LEMBATA, NTT — Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan pengamatan periode Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WITA, gunung api tersebut mengalami 62 kali letusan.
Laporan yang disusun Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok, PVMBG, mencatat letusan memiliki amplitudo 22,1–40 milimeter dengan durasi 27 hingga 162 detik. Secara visual, letusan menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 100 hingga 400 meter dari puncak kawah dengan warna asap putih hingga kelabu.
Selain aktivitas letusan, pengamatan visual juga mencatat asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Asap teramati mencapai ketinggian sekitar 20–50 meter di atas puncak kawah.
Aktivitas lava juga masih teramati. Aliran lava bergerak ke sektor selatan-tenggara dengan jangkauan sekitar 500 hingga 1.200 meter dari bibir kawah.
Dari sisi kegempaan, selain 62 kali gempa letusan, tercatat 16 kali gempa hembusan, 102 kali tremor non-harmonik, dua kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa terasa dengan skala II MMI, serta dua kali gempa tektonik jauh.
Tremor menerus atau microtremor juga masih terekam dengan amplitudo 11,1 hingga 33,2 milimeter dan amplitudo dominan 22,1 milimeter.
PVMBG masih menetapkan Gunung Ili Lewotolok berada pada Level II atau Waspada.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki dan wisatawan diminta tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran lava serta awan panas, khususnya pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ili Lewotolok.
PVMBG turut mengimbau masyarakat di sekitar gunung menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan pelindung mata dan kulit guna mengantisipasi paparan abu vulkanik yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan maupun gangguan kesehatan lainnya.
Warga juga diminta menutup tempat penampungan air bersih untuk mencegah masuknya abu vulkanik.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan aktivitas gunung api.
Informasi perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok dan rekomendasi teknis juga dapat dipantau melalui kanal resmi Magma Indonesia dan Badan Geologi.
Laporan aktivitas Gunung Ili Lewotolok periode 19 Agustus 2026 tersebut disusun oleh Stanislaus Ara Kian, A.Md., berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok.
Sumber : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok.
Editor : Roy Wahar




















