LIDIK NEWS. COM | KUPANG, Prokompimkablembata — Kehadiran Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, dalam pembukaan Festival Lamaholot di GOR Oepoi, Jumat (10/4/2026), tak sekadar seremoni budaya. Di balik itu, terselip agenda strategis: memasarkan potensi pariwisata Lembata yang selama ini disebut sebagai the authentic hidden gem di Nusa Tenggara Timur.
Dalam seminar yang menghadirkan sejumlah kepala daerah seperti Antonius Doni Dihen dan Sekda Alor Obeth Bolang, Bupati Kanis Tuaq memaparkan arah pembangunan pariwisata Lembata dalam kerangka RPJMD 2025–2029.
Ia menegaskan bahwa sektor pariwisata tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan ekonomi kerakyatan berbasis nelayan, tani, dan ternak.
“Pariwisata Lembata dibangun dari keaslian, budaya, alam, dan masyarakatnya. Ini bukan sekadar destinasi, tetapi pengalaman,” ujar Bupati Kanis dalam forum tersebut.
Paparan Bupati Lembata mengungkap dua wajah pariwisata daerahnya. Di satu sisi, kunjungan wisatawan nusantara menunjukkan tren positif. Data Dinas Pariwisata mencatat lonjakan dari 36.831 kunjungan pada 2024 menjadi 42.265 pada 2025, kenaikan yang dipicu oleh event seperti Festival Lamaholot dan penguatan destinasi desa wisata.
Namun, di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara justru mengalami penurunan tajam hingga 80,71 persen pada 2025. Faktor minimnya kunjungan kapal pesiar dan keterbatasan event akibat efisiensi anggaran disebut sebagai penyebab utama.
Kontras ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana strategi promosi pariwisata Lembata benar-benar menjangkau pasar global?
Dalam presentasinya, Bupati Kanis Tuaq secara terbuka membandingkan posisi Lembata dengan Labuan Bajo. Jika Labuan Bajo telah unggul dalam infrastruktur, branding digital, dan kualitas SDM, maka Lembata masih menghadapi sejumlah kendala klasik.
“Aksesibilitas dan amenitas yang terbatas, promosi digital yang belum terintegrasi, ekosistem ekonomi kreatif yang belum optimal, dan kualitas SDM pariwisata yang masih perlu ditingkatkan,” ungkap Bupati Kanis.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keunikan Lembata justru terletak pada autentisitasnya, mulai dari tradisi perburuan paus di Lamalera, pasar barter Wulandoni, hingga bentang alam seperti Pulau Awololong dan kawasan geothermal Watuwawer.
Pemerintah Kabupaten Lembata menempatkan penguatan sektor pendukung pariwisata sebagai salah satu dari 20 program prioritas unggulan. Strateginya meliputi: Pengembangan desa wisata (12 desa dan 3 kawasan wisata), Penguatan UMKM dan ekonomi kreatif, Promosi melalui event daerah dan nasional, Kolaborasi dengan sektor swasta, dan Digitalisasi pemasaran melalui platform media sosial resmi.
Festival Lamaholot sendiri diposisikan sebagai bagian dari upaya konsolidasi besar masyarakat Lamaholot lintas wilayah, termasuk Kabupaten Lembata, Flores Timur, dan Alor, untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Meski arah kebijakan terlihat jelas di atas kertas, tantangan implementasi tetap menjadi pekerjaan rumah. Infrastruktur dasar, konektivitas transportasi, hingga konsistensi penyelenggaraan event dinilai akan menjadi penentu keberhasilan.
Kehadiran langsung Bupati Lembata dalam forum ini setidaknya mengirim sinyal kuat bahwa pemerintah daerah ingin mengambil peran aktif, bukan sekadar simbolik, dalam mengangkat pariwisata sebagai motor ekonomi baru.
Festival Lamaholot pun kini tak hanya menjadi panggung budaya, tetapi juga arena uji bagi keseriusan pemerintah daerah dalam menjawab satu pertanyaan mendasar, apakah Lembata siap naik kelas dari destinasi tersembunyi menjadi tujuan wisata unggulan? (Prokompimkablembata)



















