LIDIK NEWS. COM | LEMBATA – Sambut Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026, Forum Jurnalis Lembata (FJL) kembali rajut tali silaturahmi ke Pondok Pesantren Al Fatah Kecamatan Ile Ape Desa Woawala Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (31/1/2026).

Tak hanya mewujudkan nilai toleransi dan merajut persaudaraan sejati, Forum Jurnalis Lembata menggelar aksi tali kasih dengan membagi paket sembako di Ponpes Al Fatah Lembata.
Berbagi dalam ketiadaan, Rombongan FJL hadir lengkap disambut hangat Ustadz Abdurrahman pengelolah Pondok Pesantren Al Fatah Lembata, NTT.
Dalam sambutannya, pihak pesantren menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan itu.
“Kami berterima kasih atas kesediaan teman-teman jurnalis yang sudah meluangkan waktu datang dan melihat langsung kondisi kami di sini. Beginilah keadaan kami apa adanya,” ungkap Abdurahman.
Ia (Abdurahman) menjelaskan, jumlah santri Pondok Pesantren Al Fatha saat ini sebanyak 22 orang, terdiri dari santri putra dan putri yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Ile Ape, Kedang, Kota Lewoleba, Nagawutung hingga Adonara.
Dalam bincang santai bersama awak media bak seperti rumpun keluarga, ustaz Abdurahman mengurai keberadaan Pondok Pesantren Al Fatha telah diakui oleh Kementerian Agama. “Kami menjalankan pendidikan sebagaimana sekolah pada umumnya, hanya saja lebih menekankan pendalaman ilmu agama Islam,” jelasnya.
Untuk diketahui, kunjungan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan menuju peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2026.
“Bingkisan sederhana ini sebagai tali kasih merajut persaudaraan sejati bersama para santri di Ponpes Al Fatah,terimakasih untuk para ustadz yang telah menerima dan menjamu kami, ” ujar Ketua Panitia HPN 2026.
Di sisi lain awak media mengambil momen penting untuk mengajak para santri untuk memberikan literasi pendidikan dan mengetahui pentingnya peran pers dalam kehidupan bermasyarakat.
Aksi tanya jawab bergulir lancar antara santri dan awak media sembari melihat cahaya nyata yang berada di wajah para santri itu.
Pantauan media, meski dalam segala keterbatasan pondok pesantren Al Fatah terus menerus bersemangat berjuang membangun dunia pendidikan yang nyata bagi anak bangsa.
Bangunan yang minim dan apa adanya bahkan terlihat dari bekas kandang ayam itu kini melahirkan santri dan santriwati begitu hebat menekuni ilmu agama yang mendalam.
“Dalam dunia pendidikan, jangan di lihat dari bangunan, meski kami masih dalam segala keterbatasan bahkan ada bangunan juga dari bekas kandang ayam namun semangat kami untuk berjuang mencerdaskan kehidupan anak bangsa tidak akan pernah pudar, ” tegas pengasuh Ponpes Al Fatah.
Lanjutntnya, semua bangunan yang ada di sini ada yang swadaya murni dari kami pengelola dan ada juga mendapatkan bantuan dari luar.
“Mushola mungil dan megah Ponpes Al-Fatah dibangun aktris nasional, Prilly Latuconsina, melalui kerabatnya yang pernah bertugas sebagai Kajari Lembata, Muhammad Azrizal, ” terang ustadz Abdurahman.
Maha dasyat kuasa tak bisa di tebak oleh siapapun jua, pasalnya seorang aktris Prilly Latuconsina digerakkan hatinya oleh pemilik jagad raya ini untuk bisa membantu pembangunan Mushola ini.
“Terimakasih banyak buat keluarga besar aktris Prilly Latuconsina dan mantan Kajari Lembata bersama istrinya, ” ucap ustadz Langoday penuh syukur.
Di bukit ini, segala sesuatu dibangun dari niat baik. Bahkan sebuah kandang ayam pernah disulap menjadi ruang kelas demi memastikan para santri tetap bisa belajar dan membentuk akhlak anak bangsa.***(tim/red)


















