LIDIK NEWS. COM | LEWOLEBA – Diduga Lecehkan dan merendahkan penyandang Disabilitas, Empat pelajar SMA di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menyampaikan permohonan maaf kepada publik setelah video yang mereka unggah di media sosial menjadi viral dan menuai kritik.
Video tersebut diunggah melalui platform Instagram pada Selasa 3 Maret yang lalu, dan dengan cepat menyebar luas di media sosial. Sejumlah pihak menilai konten dalam video tersebut tidak sensitif dan berpotensi melecehkan martabat kaum difabel.
Menanggapi reaksi masyarakat, keempat pelajar tersebut akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui surat pernyataan. Permohonan maaf tersebut disaksikan oleh para guru, orang tua, serta perwakilan lembaga sosial dan komunitas difabel di Lembata.
Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain perwakilan F.PRB, Mikhael Alexander Raring, Unit Layanan Disabilitas BPBD Reineldis Wae, perwakilan F.PKDK Ramsia Gelu Langoday, Komunitas Tuli Lembata Eugenius Kosmas Lam, Benediktus Asan, Jumat (06/03/2026).
Dalam pernyataan tertulisnya, para pelajar tersebut menyatakan bahwa video yang mereka buat tidak memiliki maksud untuk menghina atau merendahkan siapa pun, khususnya penyandang disabilitas. Mereka mengaku ketidaktahuan terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari konten yang diunggah di media sosial.
“Kami membuat video tersebut tanpa bermaksud menghina atau merendahkan siapa pun, terutama teman-teman difabel. Hal itu murni karena ketidaktahuan kami akan dampak yang ditimbulkan dari postingan tersebut,” tulis mereka dalam pernyataan tersebut.
Selain itu, mereka juga membuat video klarifikasi sebagai permohonan maaf kepada penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, organisasi yang memperjuangkan kesetaraan difabel, serta masyarakat Indonesia secara umum.
Permohonan maaf juga ditujukan kepada masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Lembata, yang merasa terganggu dengan beredarnya video tersebut. Mereka juga meminta maaf kepada lembaga pendidikan tempat mereka bersekolah karena video tersebut dibuat dengan menggunakan atribut sekolah, meskipun dilakukan di luar jam kegiatan belajar.
Tidak hanya itu, para pelajar tersebut turut menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua dan keluarga mereka yang ikut terdampak, terutama karena menjadi sasaran komentar dan perundungan di media sosial setelah video tersebut viral.
Mereka berharap permohonan maaf tersebut dapat mengakhiri polemik yang berkembang di tengah masyarakat. Ke depan, mereka berjanji akan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta lebih menghargai perbedaan.
“Kami berjanji untuk lebih menghargai perbedaan dan lebih berhati-hati dalam bermedia sosial. Semoga peristiwa ini menjadi pembelajaran bagi kami dan kita semua,” demikian bunyi penutup pernyataan tersebut.***




















