LIDIK NEWS. COM | LEMBATA — Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih terpantau aktif. Berdasarkan laporan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung api setinggi 1.423 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu mengalami 150 kali letusan dalam periode pengamatan Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 00.00 hingga 24.00 WITA.
Dalam laporan aktivitas gunung api yang diterbitkan melalui Magma Indonesia, secara visual Gunung Ili Lewotolok terpantau jelas hingga tertutup kabut pada tingkat 0-I sampai 0-II. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal teramati mencapai ketinggian sekitar 50 hingga 100 meter di atas puncak kawah.
Selain itu, selama periode pengamatan juga tercatat 150 kali letusan dengan tinggi kolom letusan sekitar 50 hingga 300 meter. Material letusan tampak berwarna putih hingga kelabu.
Petugas juga mengamati adanya aliran lava menuju sektor timur laut dengan jarak sekitar 600 meter serta sektor selatan-tenggara sejauh kurang lebih 1.300 meter dari bibir kawah. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh lemah.
Dari sisi kegempaan, PVMBG mencatat 150 kali gempa letusan dengan amplitudo 33,2 hingga 40 milimeter dan durasi 32 hingga 139 detik.
Selain itu, tercatat 139 kali gempa hembusan, 141 kali tremor non-harmonik, tujuh kali tremor harmonik, satu kali gempa vulkanik dalam, serta satu kali gempa tektonik jauh.
PVMBG hingga saat ini masih menetapkan Gunung Ili Lewotolok pada Level II atau Waspada.
Masyarakat yang berada di sekitar gunung api, termasuk pengunjung, pendaki dan wisatawan, diminta tidak memasuki maupun melakukan aktivitas di dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Khusus sektor selatan dan tenggara, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran lava serta awan panas yang dapat terjadi pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ili Lewotolok.
Masyarakat di sekitar gunung juga diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan pelindung mata dan kulit. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan maupun gangguan kesehatan lainnya akibat paparan material vulkanik.
Warga juga diminta menutup tempat penampungan air bersih guna mencegah paparan abu vulkanik.
PVMBG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun Badan Geologi di Bandung untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok dan rekomendasi teknis dapat dipantau melalui Magma Indonesia serta kanal resmi Badan Geologi dan PVMBG.
Laporan aktivitas periode 23 Agustus 2026 tersebut disusun oleh Nanda Pramtriwans Joshua Game dan Stanislaus Ara Kian, A.Md., berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok.
Sumber : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok
Editor : Roy Wahar


















