LIDIK NEWS.COM | LEMBATA – Kerusakan Pelabuhan Veri Waijarang di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat. Lumpuhnya akses penyeberangan laut jalur Lembata–Kupang selama lebih dari enam bulan menyebabkan lonjakan harga barang kebutuhan pokok serta terganggunya aktivitas distribusi logistik di wilayah kepulauan tersebut.
Kerusakan fasilitas pelabuhan itu terjadi setelah insiden kecelakaan laut yang melibatkan kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry yang menabrak tiang dolphin pada dermaga veri milik Pemerintah Kabupaten Lembata.
Hingga kini, fasilitas penting tersebut belum sepenuhnya diperbaiki sehingga aktivitas penyeberangan kapal ferry tidak dapat berjalan normal.
Akibat terganggunya operasional Pelabuhan Veri Waijarang, mobil ekspedisi pengangkut barang mengalami hambatan besar dalam proses distribusi logistik dari dan menuju Lembata.
Situasi tersebut berdampak langsung pada naiknya harga berbagai kebutuhan masyarakat karena biaya transportasi dan pengiriman semakin tinggi.
Kabupaten Lembata yang merupakan daerah kepulauan sangat bergantung pada moda transportasi laut sebagai urat nadi perekonomian masyarakat.
Ketika akses penyeberangan terganggu, aktivitas perdagangan, distribusi bahan pokok, hingga mobilitas masyarakat ikut lumpuh.
Para sopir ekspedisi mengaku mengalami kerugian besar akibat terhambatnya aktivitas penyeberangan. Mereka kehilangan pendapatan karena kendaraan pengangkut barang tidak lagi beroperasi secara maksimal seperti sebelumnya.
“Sudah berbulan-bulan kami kesulitan bekerja. Mobil ekspedisi banyak yang menganggur karena akses ferry terganggu. Kami bingung mencari nafkah untuk keluarga,” ungkap salah seorang sopir ekspedisi di Waijarang. Selasa (12/5/2026)
Tidak hanya sopir ekspedisi, dampak ekonomi juga dirasakan para buruh bagasi, pedagang kecil, hingga pelaku UMKM di sekitar kawasan Pelabuhan Veri Waijarang. Aktivitas ekonomi masyarakat yang sebelumnya hidup dari lalu lalang penumpang dan kendaraan kini mengalami penurunan drastis.
Kondisi tersebut menyisakan pilu mendalam bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas pelabuhan. Sejumlah pelapak mengaku pendapatan mereka menurun tajam sejak kapal ferry tidak lagi bersandar secara normal di Pelabuhan Veri Waijarang.
Sebelumnya, kerusakan pelabuhan tersebut telah memicu aksi demonstrasi yang dilakukan Forum Pemuda Jalanan Lembata (Fotmalen) dan Aliansi Expedisi Lembata (Axel).
Dalam aksinya, massa mendesak Pemerintah Kabupaten Lembata agar segera menekan pihak PT ASDP Indonesia Ferry untuk memperbaiki tiang dolphin yang rusak serta menghadirkan solusi nyata bagi pengguna jasa penyeberangan.
Massa aksi juga meminta pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah jangka pendek maupun jangka panjang guna mengatasi lumpuhnya jalur transportasi laut yang menjadi kebutuhan utama masyarakat Lembata.
Sementara itu, Pelabuhan Laut Lewoleba kini menjadi alternatif tempat bersandarnya kapal ferry milik ASDP. Namun perubahan jalur tersebut justru memicu peningkatan biaya distribusi barang sehingga berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama PT ASDP Indonesia Ferry segera mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki fasilitas Pelabuhan Veri Waijarang demi memulihkan roda ekonomi masyarakat Lembata yang saat ini semakin tertekan.***(rg)



















